Perjalanan Paul Pogba dan Kemrosotan Manchester United

Setiap pecinta sepak bola, apalagi mengkuti berjalannya klub dunia pasti mengenal sesosok Paul Pogba. Seorang pesepak bola asal Perancis yang saat ini berkesempatan berkarir di Manchester United. Pria berkelahiran tahun 1993 ini dikenal sangat terampil sebagai penyerang maupun bertahan. Bahkan masuk sebagai deretan pemain profesional dunia.

Mula-mula hobinya ini ditekuni sejak berumur enam tahun dengan bergabung salah satu klub sepak bola local yang bernama Roissy-en Brie. Bermain di klub sepak bola junior local selama enam tahun lamanya hingga di usia dua belas tahun bergabung dengan tim junior Torcy FC dan beberapa klub setempat.

Keseriusannya ditekuni dengan masuk ke akademi sepak bola Manchester United dan sempat bermain untuk klub ini, ketika diusianya yang menginjak tujuh belas tahun. Namun hanya diberi kesempatan dalam pertandingan sebanyak tiga kali saja. Karena merasa kurang berkembang pada akhirnya data sgp memutuskan untuk pindah ke Serie A Italia, masuk ke Juventus FC.

Paul Pogba Mendapat Julukan “Si Gurita”

Di sana ia mendapatkan julukan yang menarik “Si Gurita” berkat kakinya yang panjang dan piawai saat tackling dan berlari mengejar bola. Pesatnya sepak terjang Paul Pogba di Juventus menghantarnya menjadi pemain inti klub. Paul Pogba selalu menampilkan performanya di lapangan hijau saat berperan menyerang atau pun bertahan.

Karena permainannya yang selalu memukau dan meningkat, Paul Pogba dilirik berbagai klub elit lain di Eropa. Manchester United yang sebagai mantan tempatnya berlatih dan bermain pun meliriknya kembali. Bahkan secara terang-terangan menyatakan tertarik kembali meminang Paul Pogba untuk bergabung kembali ke klub. Demi menunjukkan pada rivalnya yaitu Manchester City.

Pada akhirnya berhasil direbut kembali untuk memperkuat Manchester United dibawah pelatih Jose Morinho. Namun malah yang terjadi saat berpindah kembali Paul Pogba membuat banyak permasalahan. Sepertinya ada dendam masa lalu pada klub ini, terutama pada saat dulu dilatih Sir Alex Ferguson. Ada beberapa alasan yang menyebabkan seharusnya Paul Pogba pergi dari Old Trafford untuk kedua kalinya.

Sorotan Media Yang Terlalu Sentris

Kehadiran Paul Pogba ke klub lamanya justru menimbulkan banyak polemik bagi pemain lain, karena seakan Manchester United hanya terpusat padanya. Dirinya menjadi pusat perhatian media, opini publik hingga manajemen klub. Semenjak inilah, pada periode kedua kesempatannya di Manchester United seolah diidentikan dengan adanya Paul Pogba.

Yang paling miris ketika ketika menang berlaga, hanya Paul Pogba yang disebut bermain baik. Tetapi juga ketika mendapat kekalahan hanya terfokus ke permainan Paul Pogba. Walaupun seharusnya merata pada semua pemain karena memiliki andil yang sama. Semakin lama semakin menyebabkan permasalahan besar pada aksi klub di lapangan.

Seandainya Paul Pogba hengkang mungkin sorotan media, publik, dan manajemen menjadi lebih kolektif dan merata. Sehingga tidak ada lagi keirian antar pemain yang menyebabkan perpecahan. Pada akhirnya permasalahan ini dipikirkan matang hingga diselenggarakannya pembukaan pemain atau akulturasi baru di bursa transfer.

Virus Yang Terus Meluas

Gaya permainan Paul Pogba yang terkesan sensasional karena penuh drama terlihat ketika tim dilanda kekalahan. Ekspresi tetap rileks ditunjukkan oleh pemain ini dengan tetap bergaya dan elegan hingga selesainya sorotan kamera. Inilah yang kemudian menyebabkan perasaan tidak enak dari pemain lain menyebabkan kelesuan tidak lagi merajai di lapangan.

Fenomena ini menujukkan kurangnya keseriusan manajemen klub dalam memperbaiki kualitas permainan, melainkan malah meningkatkan popularitas dengan menjual drama sensasional. Meskipun baik untuk promosi dan ketenaran klub di mata media. Tetapi sangat buruk bagi perkembangan tim jangka panjang. Karena akan lebih berdampak negatif menyebabkan kemunduran klub.

Beberapa sikap Paul Pogba menunjukkan yang tidak seharusnya. Pada saat Jose Mourinho dipecat oleh klub, pria ini malah memposting foto dengan wajah tersenyum dan caption yang tidak seharusnya. Hal ini menunjukkan sikapnya yang merendahkan unsur-unsur yang ada di klub. Bahkan pelatihnya sendiri.

Meskipun pada akhirnya ia meminta maaf dan melakukan klarifikasi apabila tindakan itu merupakan settingan tim manajemen guna meningkatkan popularitas klub. Tindakannya sudah dinilai publik melecehkan dan kemudian muncul rasa tidak respek padanya.

Keuntungan finansial Bagi Klub

Penjualan pemain di bursa jual pasti akan mendatangkan keuntungan bagi klub. Apalagi jika dirasa secara rasional tidak menguntungkan. Akibat ulahnya sendiri, seharusnya Paul Pogba dijual pada bursa pemain. Meskipun pada saat itu pembelian Paul Pogba dari Juventus tercatat sebagai rekor transfer senilai delapan puluh Sembilan poundsterling.

Jikalau dijual pun seharusnya jika turun tidak sejauh pada nilai pembeliannya. Karena kehadiran Paul Pogba selalu dicitrakan baik sebagai pesepak bola fenomenal. Sehingga nantinya uang dari penjualannya bisa untuk menggantikan pemain baru yang lebih cocok untuk klub.

Terfokus Kembali Berbenah Permainan

Pengalaman buruknya di tahun 2018 tim-tim rivalnya mampu menembus final di turnamen antar klub di Eropa, berada di zona Champions League. Pembahasan mengenai Manchester United malah pada sejarah buruk yang membuatnya turun.

Apalagi saat ada penyataan Paul Pogba dan manajemen tim yang justru mementingkan marketing brand. Sudah seharusnya Manchester United melenggang lagi di setiap turnamen seperti pada masanya. Berbenah diri agar bisa berjejer dengan rivalnya lagi, bahkan bisa di atasnya.